Sekolah di Luar Sekolah

24 06 2009

Hmm?! Judul yang paradoks banget, kan? Katanya sekolah, tapi di luar sekolah. Gimana, seich??! Eits, jangan bingung dulu, temen-temen. Yang dimaksud judul ini, belajar di luar pendidikan formal (sekolah). Nach, yang seperti apa sich, belajar di luar sekolah? Apakah kita bawa buku paket Matematika, terus ngerjainnya di taman? Ya, bukan seperti itu. Cara pembelajaran (kurikulum) nya tentu berbeda dengan apa yang kita dapatkan dengan status “pelajar sekolah”. Temen-temen pernah nggak, ikutan kursus mobil? Atau mungkin, bagi yang jago masak, pernah nngak ikutan bimbingan masak? Nach, hal-hal yang seperti itulah yang dimaksud dengan sekolah non-formal, atau sekolah di luar “sekolah”. Atau, contoh yang lebih jauh lagi, pernah nggak ngebantuin seorang nenek yang tua renta, jalannya udah bongkok, untuk menyebrangi jalan raya? Bahkan, hal yang seperti itu dapat pula dibilang sekolah di luar sekolah. Hmmm… rumit juga ya?
Menurut salah seorang praktisi pendidikan Indonesia, sekolah merupakan tempat dimana kita bisa mendapatkan sesuatu yang baru dan berbeda dengan lingkungan kita untuk kita pelajari. Dengan definisi yang seperti ini, kita bisa mengambil contoh, kalau diskotik sekalipun, merupakan “sekolah” bagi yang belum pernah merasakan dunia maksiat tersebut. Definisi lain juga dikemukakan oleh ketua SRI (Science Research Institute), Thesla. Menurutnya, sekolah didefinisikan menjadi tempat di mana kita bisa belajar. Dalam salah satu karyanya, dia mengemukakan beberapa syarat, agar tempat tersebut bisa disebut sebagai sekolah. Salah satunya adalah, memiliki ilmu yang bisa dimanfaatkan. Tentu, dengan definisi yang umum ini, terlepas dari jahat ataupun baik, tempat tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah sekolah.
Salah satu perbedaan yang paling menonjol antara sekolah formal dengan sekolah non-formal, adalah skill (kemampuan). Pada sekolah formal (kurikulum negara kita), kita hanya diajarkan berbagai disiplin ilmu saja. Dalam salah satu artikel kami, ada yang dinamakan “transfer ilmu” saja. Seorang guru datang ke sekolah, lalu masuk kelas, kemudian memberikan pembahasan sesuai dengan apa yang sudah dipelajarinya sesuai kurikulum sekolah. Kemudian memberikan PR, lalu anak-anak pulang. Kurikulum yang seperti ini, sedikit sekali memberikan kita kemampuan untuk mengerjakan sesuatu. Makanya, banyak anak-anak remaja saat ini, yang lebih memilih SMK atau sekolah-sekolah non-formal, dengan alasan, jika ada apa-apa, maka mereka bisa mendapatkan penghasilan sesuai kemampuan yang dimilikinya, apakah itu bidang tataboga, elektronika, software, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Bagi sebagian orang, ketika mereka memasuki bangku SMA, maka mereka berpikir untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Jadi, SMA bagi mereka hanyalah batu loncatan saja, untuk mendapatkan ijazah agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.
Sekolah di luar sekolah ini, juga bermanfaat lebih dibandingkan sekolah formal. Karena, pada umumnya sekolah non-formal ini menuntut kepada orang yang mengikutinya, agar bekerja keras dan mandiri, sehingga hasil yang diharapkan (kemampuan yang diinginkan) bisa dimiliki.

Cat: Di sini, kami tidak berusaha untuk memprovokasi pembaca sekalian, agar lebih memilih sekolah-sekolah non-formal ataupun SMK, dibandingkan sekolah formal, seperti SMA.


Aksi

Information

3 responses

24 06 2009
EKo

Oh……jadi belajar kursus juga termasuk pendidikan informal ya

24 06 2009
thebest195friends

iya….biasa

1 07 2009
Chacha

ckolah di luar? akuh juga ckolah di luar rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s