Keadilan dan Kesetaraan Gender, Ide Berbahaya!

3 06 2009

Temen-temen, sekarang tuh kan lagi marak ya, yang namanya ide Keadilan dan Kesetaraan Gender (atau disingkat KKG). Nah, ide ini tuh diusung oleh kaum feminis, aktivis perempuan, kaum intelektual, dsb. Pernah nggak, temen-temen tuh mikir, kalau sebenernya ide KKG ini tuh hanya alat yang digunakan Negara Neo-Imperialis untuk menjajah dan menghancurkan pemikiran umat (khususnya Islam)? Bahwa ide-ide yang dikemas manis dengan janji-janji dan slogan-slogan ini, sebenernya berinti busuk dan penuh dengan pemikiran yang bahaya, loh?! Nah, gimana sich bahayanya? Yuk, kita telusuri.

Konsep

Secara garis besar, upaya penyetaraan gender tuch mengacu pada ahli filsafat Yunani kuno, Socrates. Kata dia, ada dua hal mendasar agar perbedaan gender bisa hilang. Pertama: menghilangkan female modesty, atau sifat-sifat feminism dari wanita. Dalam hal ini, bahkan perlakuan pun harus disamakan antara pria dan wanita. Misalnya, jika pria boleh menjadi pemimpin, kenapa wanita nggak? Lalu, jika pria boleh menjadi imam shalat, kenapa wanita nggak? Bahkan, jika pria boleh menjadi kuli, kenapa wanita nggak?

Socrates dengan ekstrem mengilustrasikan, cara untuk menghilangkan sifat feminism pada wanita ini adalah dengan berlari telanjang bersama-sama pria dan menghilangkan maternal insting atau sifat-sifat keibuan. Wacks!? Memang begitu, menurut pemikiran yang tidak rasional.

Lalu, Kedua melalui instrumen sosial dengan mengubah lingkungan sosial sehingga bisa ngilangin perbedaan gender, misalnya melalui UU. Nah, jika make UU, konsep ini bisa dengan cepat disosialisasikan. Melalui UU, Negara musti nyediain pengasuhan anak komunal, membenarkan desakralisasi atau kehancuran keluarga, melegalkan aborsi, bahkan –menurut Socrates- infanticide (pembunuhan bayi). Semua ini bertujuan agar insting keibuan pada diri wanita tadi tuh bisa ngilang sehingga kesetaraan gender bisa tercipta.

Tambahan, ajang paling spektakuler bagi konferensi perempuan dunia adalah Konferensi PBB keempat tahun 1995 di Beijing yang menghasilkan Beijing Platform for Action-BPFA. Konferensi ini dihadiri oleh 189 negara-negara anggota PBB. Pada tahun ini mulai dikenalkan wawasan Gender Nad Development (GAD) dengan penekanan pada kesadaran tentang kesetaraan gender (gender equality) dalam menilai kesuksesan pembangunan. GAD ini menekankan pentingnya kajian yang mendasar kepada struktur sosial dan partisipasi aktif perempuan dalam menentukan suatu keputusan. Perhitungan yang sipake adalah GDI (Gender Development Index), yaitu kesetaraan laki-laki perempuan dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi serta GEM (Gender Empowerment Measure), yang mengukur keetaraan dalam partisipasi politik. Indicator idealnya adalah 50/50

Asumsi di Balik Gender

Pengkajian terhadap ide gender ini, akan ditemukan bahwa konsep ini tuch memandang manusia terdiri dari perempuan dan laki-laki, dengan perbedaan alami (nature) dan bentukan budaya (nurture). Untuk perbedaan alami (nature), hanya terletak pada faktor biologis/fisik semata yaitu pada organ reproduksinya. Menstruasi, kemampuan hamil, dan melahirkan diakui sebagai pembeda alami perempuan dan laki-laki. Sedangkan budaya (nurture), seperti peran mengasuh anak, pengatur rumah tangga itu adalah hasil sosialisasi. Budaya pula yang dianggap membentuk wanita menjadi feminin dan pria menjadi maskulin.

Dalam sifat antara perempuan dan pria, konsep gender ini menyatakan bahwa nggak ada pengaruhnya dengan faktor biologis tadi. Jadi, menreka menyatakan adanya konsep seks (perbedaan alat reproduksi) dan konsep gender (selain faktor reproduksi atau bentukan alam). Faktor alam ini kemudian dirinci menjadi agama, budaya, dan kultur.

Menurut konsep gender ini, cuman sifat maskulin lah yang bisa “bertahan hidup” di ruang masyarakat. Bagi kalangan feminis, keadilan nggak aka nada selama sifat maskulin mendominasi dan menyisihkan sifat feminis. Makanya, mereka berupaya untuk mendapat sifat maskulin ini sehingga adanya keseragaman antara pria dan wanita.

Kegagalan konsep ini bisa diamati dari penolakan mereka terhadap faktor biologis terhadap naluri manusia. Padahal, keadaan biologis manusia dapat mempengaruhi perilaku manusia, lho. Misalnya, laki-laki pada umumnya memiliki otot yang yang lebih besar daripada wanita. Meskipun ada juga wanita yang berotot gede, namun tetap saja secara alami, bahwa hormon yang ada pada laki-laki jauh lebih menunjang pembentukan otot dibandingkan wanita. Terus, tulang pelvic pada wanita lebih besar daripada pria. Pada wanita, ini sangat membantu dalam proses kehamilan dan kelahiran. Hormon-hormon pada wanita yang terbentuk pada saat menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui berpengaruh pada kondisi sifat feminin wanita. Nah, sifat-sifat inlah yang dibutuhkan bayi yang tidak berdaya. Tanpa ada figure feminin seperti ini, maka kelangsugan hidup manusia bakal berjalan dengan tidak sehat.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa manusia, baik itu pria maupun wanita memiliki dikaruniai kemampuan berpikir yang sama. Pria dan wanita juga diberikan potensi hidup yang sama, yakni terdiri dari kebutuhan jasmani dan naluri. Naluri ini meliputi naluri beragama, naluri mempertahankan diri, dan naluri kasih saying. Tapi, pria dan wanita pun memiliki ke-khas-an masing-masing, baik perbedaan struktur tubuh, sistem hormonal, dll (fisik); maupun psikis (yang bisa dipengaruhi oleh faktor biologisnya). Karena itu, sangat tepat saat Islam menetapkan kewajiban dan hak yang sama pada pria dan wanita sebagai manusia (insaniah), sekaligus menetapkan kekhususan hak dan kewajiban berdasarkan jenis masing-masing (sebagai pria dan wanita). Wanita diberi tanggung jawab sebagai ibu dan mengelola rumah tangga. Sebaliknya pria diberi tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga yang melindungi dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, sekaligus sebagai pemimpin Negara di sector public.

Dengan demikian, kegagalan sumsi gender ini terbantahkan dalam dua hal:

1.   Gagal dalam memahami naluri manusia

2.   Ketidaksesuaian teori narute dan nurture secara de facto (fakta) dengan kehidupan masyarakat manapun.

Jadi, jelaslah temen-temen, bahwa KKG ini adalah ide yang absurd sekaligus berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.


Aksi

Information

6 responses

10 06 2009
tya

hmmmm…. ga sesederhana itu yaa….
tentang konsep kesetaraan gender itu sendiri, para feminis pun banyak yg beda pendapat..

kalo yg saya pahamin nih ya… konsep kesetaraan gender itu diperlukan karena melihat adanya ketidakadilan yg dialami perempuan dalam banyak aspek..

konsep kesetaraan gender ga ‘seberbahaya’ itu kok…

12 06 2009
thebest195friends

Perempuan harus mengakui perbedaannya dengan kaum laki-laki……bahwa laki-laki itu lebih pantas…..jadi seorang pemimpin….

19 06 2009
Chacha

Emmm… ichu tya, aku ga cependapat, emang bener tuch artikel ini, karena kesetaraan gender ituch, ide yang betentangan banget ama Islam. di islam, wanita dan laki-laki dianggap sama di hadapan Allah, yang membedakan hanya derajat taqwanya. tapi, bukan bearti wanita itu disamakan dngan laki-laki

20 06 2009
thebest195friends

terima kasih telah sependapat dengan kami….

23 06 2009
Shika

hmmm… sip lah

24 06 2009
thebest195friends

Anda setuju dengan pendapat kami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s