Pendidikan di Indonesia Tidak Tepat

31 05 2009

“Oi, Senin ulangan PPKn jeung Basa Sunda, ya?!” kata si A. “Muhun, isukna Geografi jeung Fisika! Arggh, lieur ngapalin loba kitu!” kata si B. “Tos ah, abdi mah moal ulangan!” kata si C. “Naha kitu?” kata si B. “Da abdi mah, cita-citana oge bade jadi pengusaha, da teu aya hubunganana diajar nu kitu!”

Hai, temen-temen! Dah baca cuplikan di atas? Ya, itu hanya sedikit berintermezo saja. Namun, ada kutipan yang paling penting dalam obrolan di atas. Yaitu jawaban si C atas pertanyaan si B,”…teu aya hubunganana diajar nu kitu!” Nah, ini perlu kita amati. Ayo, kita studi kasus dulu! Si C ingin jadi pengusaha. Tapi, masalah (baca: konflik) sebelumnya adalah bahwa dia harus mengikuti ulangan PPKn dan Bahasa Sunda pada hari Senin; dan Geografi dan Fisika pada hari Selasanya. Nah, apakah kedua mata pelajaran tadi menunjang cita-cita si C tadi? Apakah dengan belajar PPKn dia akan menjadi pengusaha yang sukses? Atau dengan belajar Bahasa Sunda dia bisa mengerti bahasa tubuh yang digunakan konsumen dalam menilai produknya?

Inilah paradoks yang terjadi di Indonesia. Betapa anak-anak sekolah dibebani dengan banyak sekali pelajaran, namun hasilnya sangat kurang berpengaruh terhadap kehidupan si anak. Dalam seminggu, seorang anak SMA kelas X harus mengikuti lebih dari 15 mata pelajaran, termasuk muatan lokal. Saat pindah jurusan, dia mengikuti lebih dari 10 mata pelajaran dalam seminggu. Lalu, saat keluar, skill apa yang mereka miliki? Hampir tidak ada sama sekali. Kalaupun ada, itu adalah dari kelas ekstrakurikuler yang ia ikuti, itupun hanya diajarkan dasarnya saja. Sehingga, mereka tidak memiliki kemampuan apa-apa setelah keluar dari sekolah, kecuali hanya secuil pengetahuan akademis saja. Terpaksa, anak-anak tersebut harus mengikuti sekolah lanjutan di bangku perkuliahan. Lalu, bagaimana yang tidak mampu untuk membayar biaya kuliah? Mereka yang pintar saat sekolahnya bisa mencari beasiswa. Tapi, bagaimana nasib anak-anak yang tidak terlalu pintar? Mereka akan bekerja di pabrik-pabrik, kasir sebuah minimarket, satpam perusahaan, dll. Karena, universitas atau perusahaan besar tidak meloloskan bagi mereka yang tidak pintar. Sehingga, jaman sekarang jika masuk SMA, minimal nilainya harus 10 semua untuk melanjutkan sekolah mereka. Hal ini disebabkan, saat SD, SMP, dan SMA mereka hanya diberikan pengetahuan dasarnya saja, dan jika mereka tidak mampu menyelesaikan persoalan dasar saja, mereka akan mendapat kesulitan saat menerima bangku lanjutan nanti.

Dalam sistem pendidikan negara Islam, anak-anak diberi pelajaran wajib dan pelajaran pilihan. Anak-anak boleh menetapkan ingin menjadi apa kelak di masa depan sedari dini, dan negara akan mengarahkan mereka ke pelajaran-pelajaran yang menunjang cita-cita mereka. Misalnya, si anak ingin menjadi dokter, maka sedari kecil mereka sudah dikenalkan dengan peralatan kedokteran, teori-teorinya, dan lain sebagainya. Sehingga, ketika mereka nanti menginjak bangku perkuliahan, mereka sudah matang dan profesional untuk menerima pelajaran lanjutannya. Selain itu, mereka tentu harus mengikuti pelajaran-pelajaran wajib, seperti Bahasa Arab, tsaqafah Islam, dll. Dan yang lebih hebat lagi, semua itu sama sekali tidak dipungut bayaran. Negara wajib menggratiskan pendidikan -baik bagi orang yang mampu maupun tidak- sehingga rakyat itu benar-benar memiliki hak untuk menerima pendidikan. Dan tidak heran, jika pada masa Kekhilafahan dulu banyak ilmuwan -baik perintis maupun pelanjut- lahir dengan melimpah. Dari mana sumber uangnya? Tentu negara memiliki sumber-sumber dana untuk Kas Negara, seperti jizyah, muamalah, dll.

Nah, sekarang adalah kewajiban kita untuk berjuang melanjutkan kembali kehidupan Islam. Kita harus berusaha -dengan bergabung dengan kelompok-kelompok da’wah- untuk memperjuangkan syariah Islam ini agar tegak di muka bumi ini, sehingga, kemakmuran dan kesejahteraan alam insya Allah akan terjadi.


Aksi

Information

5 responses

1 06 2009
Ihsan

Saya setuju juga dengan Anda.

2 06 2009
thebest195friends

baguslah kalu begitu….

24 06 2009
zefs

setuju,………..
knapa yach pemerintah kita yg mewakili orang2 pintar gak kepikiran sampai ke sana. knapa mereka gak mau mencontoh yang baik? malah dengan egonya mengeluarkan sistem baru yang ternyata jauh lebih jelek. duh nasibmu anak2ku…….

24 06 2009
thebest195friends

IYa…..rta-rata pemerintah lebih memntingkan dirinya sendiri

1 07 2009
Chacha

ooh, gitu yach?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s