Kemungkaran Marak Akibat Syariah Tidak Tegak

31 05 2009

“Katakanlah, “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara benar dan keluarkan pula aku secara keluar secara benar, serta berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 80)

Hai teman, kalau kamu sering ngamatin linkungan sekitar kamu, pasti kamu nyadarin kalau ternyata banyak sekali kemungkaran yang terjadi. Misalnya, banyak akhwat yang tidak menutup auratnya (rambut juga t’masuk, loh), atau banyak yang sering tawuran, atau bahkan pergaulan beda jenis yang tidak Islami (pacaran, dsb). Atau, kalau kamu sering nonton TV (bukan Spongebob, ya), banyak sekali kasus kriminalitas, seperti pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, dan masih banyak lagi. Bahkan, kriminalitas itu sudah menjadi hiburan saja. Kok gitu? Coba aja, kalau kamu nonton sinetron, kalau nggak ada adegan penyiksaan, pembunuhan, perampokan (atau paling nggak pengusiran), pasti nggak akan ditonton. Tapi, kalau misalnya acaranya dari awal sampai akhir film, isinya cumin mukulin pembantu aja, pasti ibu-ibu (atau kamu barangkali, hehe) bakal nyediain waktu untuk nonton film tersebut. Dan bahkan yang lebih parah lagi, kriminalitas itu sudah menjadi “tuntutan”! Wacks?! Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bimo Nugroho pernah mengungkapkan tahun 2006 kemaren, 30% kekerasan yang terjadi di masyarakat adalah akibat pemberitaan di TV. Namun, nomor satu penyumbang kekerasan di masyarakat justru acra-acara sinetron! (Mediakonsumen.com, 5/12/2006).
Fakta juga berbicara jujur terkait dengan maraknya kemungkaran atau kejahatan ini:
1. Pornoaksi/Pornografi
Pornoaksi, sekarang ini sudah menjadi “menu utama” dalam acara-acara hiburan. Bahkan, dalam tayangan-tayangan iklan sekalipun, sering banget ada adegan-adegan yang berbau pornografi atau pornoaksi. Dan di dunia cyber (internet, dsb), menurut Sekjen Aliansi Selmatkan Anak Indonesia, Inke Maris, Indonesia menduduki peringkat ketiga pengakses internet dengan kata –maaf- seks. (Republika, 22/9/2008)
2. Seks bebas
Nah, pornografi/pornoaksi tadi, menjadi trigger untuk kemungkaran lain, dan yang paling terpengaruh adalah seks bebas. Di Indonesia, seks bebas mencapai 22,6%. Dan ironisnya, sebagian besar dilakukan anak remaja! Seks bebas tentu menaikkan angka kehamilan di luar nikah. Di Indonesia, kehamilan remaja di luar nikah karena diperkosa sebanyak 3,2%, karena sama-sama suka 12,9% dan “tidak terduga” sebanyak 45% (Indofamily.net)
3. Aborsi
Akibat langsung dari hamil di luar nikah tadi, di kalangan remaja semakin marak saja, yang namanya aborsi (pengguguran kandungan). Saat ini, di Jawa Barat saja, angka aborsi remaja mencapai 200.000 kasus pertahun! Secara nasional, jumlah remaja yang melakukan praktik aborsi mencapai 700-800 ribu remaja dari total 2 juta kasus aborsi! (Detik.com, 9/4/2009)
4. Pelacuran
Secara nasional, berdasarkan data ILO (internasional Labour Organization), pada tahun 2002-2006 saja ditemukan sebanyak 165.000 pelacur. Sekitar 30% atau 49.000 jiwa adalah anak di bawah usia 18 tahun. (Tempointeraktif, 8/2/2007) Seks bebas dan pelacuran, jelas sangat erat hubungannya dengan kasus HIV/AIDS. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menyebutkan bahwa seks bebas kini menjadi penyebab utama (55%) dari HIV/AIDS, selain narkoba (42%). (AIDS.indonesia.or.id, 5/5/2009)
5. Korupsi
Sejak tahun 2004, sebanyak 4.384 perkara korupsi telah disidik Kejaksaan, Kepolisan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Jurnalnasional.com, 9/12/2008) Namun, menurut Direktur HAM Bappenas, Diani Sediawati, hingga tahun 2006, baru 1% saja kasus korupsi yang berhasil diselesaikan KPK! Menurutnya, saat ini di Indonesia masih terjadi kebocoran dana pembangunan 45-50%. Sebagian besar terkait dengan pengadaan barang dan jasa untuk pemerintah dan Negara. Padahal dalam APBN/ APBD tahun 2007 saja dana untuk pengadaan barang/jasa Pemerintah sebesar Rp 230 juta trilyun alias Rp 230.000.000.000.000.000.000! (Tempointeraktif, 6/12/2006)

Kemungkaran Yang Lebih Besar
Dan masih banyak lagi kemungkaran yang terjadi, seperti pembunuhan, perampokan, dan pencurian seperti yang dah disebutin tadi. Dan bahkan kemungkaran yang dilakukan oleh para penguasa dan wakil rakyat lebih besar lagi. Seperti UU Migas, UU Penanaman Modal, dan UU Minerba. Ketiga UU ini berpotensi semakin melepas peran Negara dalam penguasaan atas sumber-sumber kekayaan milik rakyat. Bayangkan saja, menurut seorang pengamat ekonomi, migas 90% dikuasai asing. Lalu di Freeport, berapa banyak perbandingan pembagian hasil untuk Indonesia? Sedikit banget! Dan ironisnya, rakyat Indonesia yang tinggal di sekitar Freeport boro-boro makan enak setiap hari, baju aja juga nggak punya!

Faktor Penyebab
Mengapa semua ini bisa terjadi? Menurut KH Nazri Adlani, penyebabnya ada dua. Pertama: UU yang lemah. Dalam system sekuler yang terjadi saat ini, sudah wajar kalau UU yang diterapkan lemah. Pasalnya, sering UU tersebut merupakan hasil dari tawar-menawar dan kompromi akibat tarik-menarik berbagai kepentigan di kalangan para pembuat hokum (para anggota DPR); entah kepentingan para anggota itu sendiri, kepentingan parati, atau kepentingan luar (seperti para pemilik modal). Kedua: lemahnya aparat penegak hokum. Misal: Penerapan UU Anti Korupsi pada pelaksanaannya sering “pilih kasih”. Kasus-kasus korupsi yang disidik kebanyakan kasus yang kecil-kecil saja, itupun banyak pelakunya yang akhirnya bebas setelah banyak persidangan. Sebaliknay kasus besar yang menghabiskan uang Negara puluhan trliyun rupiah, seperti BLBI sekarang nggak jelas ujungnya.
Kedua penyebab tadi, adalah penyebab sampingan dari penyebab utamanya, yaitu karena diterapkan system mungkar di negeri ini (baca: system secular, yang tidak menerapkan hukum Islam). System ini hanya memproduk hokum-hukum lemah dan tidak berdaya untuk memberantas kejahatan di negeri ini. System ini juga tidak mampu melahirkan penguasa-penguasa yang bertakwa kepada Allah SWT. Akibatnya, banyak penguasa dan aparat penegak hokum yang justru menjadi bagian penentang hokum (melakukan kejahatan).
Butuh Kekuasaan
Kemungkaran system ini tentu yang terbesar. Sebab dalam system ini, syariah Islam atau hokum-hukum Allah SWT dicampakan. Manusia justru membuat hokum sendiri yang terlepas dari hokum Allah SWT. Padahal Allah berfirman dalam al-An’am: 57,
“Membuat hokum itu sesungguhnya hanyalah kewenangan Allah”
Karena itulah, sudah saatnya kaum Muslim, khususnya para ulama (terutama MUI), partai-partai Islam, ormas-ormas Islam, juga seluruh komponen umat Islam (dari tingkat penguasa hingga rakyat biasa) segera bahu-membahu menerapkan syariah Islam. Tidak selayaknay kaum Muslim menolak syariah Islam. Tidak sepantasnya partai-partai Islam menolak mengusung syariah dengan alas an “nggak laku”. Pasalnya, syariah Islam ini adalah suatu kewajiban, dan bahkan Allah menghinakan orang-orang yang enggan menghukum dengan Islam dengan sebutan kafir, zalim, atau fasik (lihat: QS al-Maidah: 44,45 dan 47).
Karena itu, wajib bagi kita untuk memiliki kekuasaan untuk menerapkan Islam. Kekuasaan inilah yang disebut dengan Khilafah. Hanya Khilafahlah yang bisa menerapkan syariah Islam. Hanya dengan kekuasaan Khilafah yang menerapkan Islamlah taghyir al-munkarat (memberantas kemungkaran) bisa secara sempurna dilakukan.


Aksi

Information

2 responses

1 06 2009
Nadia

bener-bener dech,

2 06 2009
thebest195friends

bener-bener deh knpa…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s