Politisi Islam Sejati

30 05 2009

Where is the True

Politician ?

Hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung

(QS Ali Imran [3]: 104)

Politisi? Temen-temen tahu nggak artinya? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa politisi sama dengan politikus, keduanya bermakna ahli politik, ahli kenegaraan dan orang yang berkecimpung dalam bidang politik. Tapi, apakah politik sekarang ahli sesuai dengan makna tersebut?

Sekarang ini, banyak banget yang mengkerucutkan arti politikus sebatas orang-orang yang bergelut dalam kekuasaan. Mulai dari kepala Negara, sampai para anggota dewan disebut politisi. Namun kenyataannya, orang-orang yang mengungkapkan diri miereka sebagai politis lebih sibuk dengan aktivitas memasang iklan di TV yang menelan lebih dari ratusan milyar rupiah. Kalau mereka menengok rakyat kecil di kampong-kampung pelosok, itupun hanya menjelang Pemilu atau Pilkada saja. Di gedung parlemen, bukan menjadi rahasia, kalau amplop (berisi uang, bukan surat tagihan, ya) bertebaran di mana-mana. Pengakuan seorang mantan anggota DPR yang ditemui bahkan sangat mencengangkan. Menurutnya, bertebaran amplop Rp 5 juta atau Rp 10 juta sudah seperti orang tua memberi uang jajan ke anaknya Rp 1000 sehari.

Lalu, banyak juga orang-orang yang belum pernah sama sekali menjalani dunia politik, sekarang “ikut-ikutan” memasuki dunia politik. Artis-artis, mulai dari pelawak, actor, sampai penyanyi muncul menjadi anggota parlemen. Mereka mengungkapkan bahwa mereka ingin menjadi harapan rakyat, membawa perubahan, dsb. Padahal, mereka tahu apa? Dengan modal ketenaran, mereka muncul ke permukaan, di samping menjadi “alat” bagi partai politik. Lalu, para mantan aktivis yang dulu berteriak lantang, kini membagi diri ke dalam berbagai partai.

Padahal dalam Islam, politik bermakna ri’ayah syuuni an-nas, yakni mengurusi urusan masyarakat. Berdasarkan hal ini, politisi mestinya adalah orang-orang yang menyibukkan dirinya dalam mengurusi urusan rakyat; memiliki sikap jiwa (nafsiyah) yang baik; memiliki keahlian dan kemampuan untuk menjalankan perkara kenegaraan; menyelesaikan problematika kerakyatan yang tengah dihadapi dan menuntaskannya penuh kebijaksanaan dan keadilan. Mereka juga adalah orang-orang yang mampu mengatur berbagai interaksi dengan masyarakat dan antar anggota masyarakat. Dan jelas, mereka bukan orang yang baru saja masuk ke dunia politik, langsung maju menjadi wakil rakyat. Merekalah politikus semu, yang pada umumnya hanyalah memikirkan kepentingan dirinya atau kelompoknya.

Penyebab Politisi Semu

Fakta menunjukkan ada beberapa penyebab lahirnya para politisi semu tadi. Pertama: kegagalan ideologisasi partai. Masyarakat paham betul bahwa partai-partai yang ada sama saja. Penelitian Indo Barometer tahun 208 kemaren menunjukkan: mayoritas pemilih (63,1% – 72,3%) menyatakan kesulitan mengidentifikasi perbedaan sikap politik dan kebijakan ekonomi partai-partai; alasan terbesar rakyat memilih suatu partai adalah dekat/peduli dengan rakyat (34,1%) dan jujur/tidak KKN (10,8%); responden (43,3%) menyatakan tidak ada bedanya antara partai Islam dan bukan Islam (secular). Lalu elit/pengurus partai Islam dipandang sama saja dengan elit/pengurus partai lainnya dinyatakan oleh 34,8%. Semua ini mengindikasikan bahwa tidak ada pembeda antara partai Islam dengan partai secular. Padahal, jelas yang seharusnya menjadi pembeda partai Islam dengan partai lainnya adalah ideologinya. Dengan kata lain, kegagalan ideology ini tidak akan melahirakan politisi sejati, melainan melahirkan politisi semu.

Kedua: kegagalan pengkaderan. Sekarang justru banyak politisi yang menjadikan dunia politik ini menjadi tempat mencari makan. Boro-boro memperjuangkan rakyat, justru dia akan berusaha untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri. Perekrutan kader pun tidak berasal dari sebuah proses pembinaan, melainkan dari popularitas. Seperti yang dah diomongin di atas, artis atau pengusaha berubah menjadi politisi. Para pengamat pun nggak mau kalah dan mentransformasikan diri menjadi politikus.

Ketiga: berpolitik untuk materi. Menyedihkan, banyak orang menjadi politisi hanya sekedar mengejar materi. Realitasnya adalah, banyak sekali politisi rebutan jabatan kekuasaan bagi-bagi proyek, dan meneriman uang sogokan. Pikirannya hanyalah bagaimana menang dalam Pemilu/Pilkada. Berbagai sumberdaya dikerahkan ke sana. Politisi pun menjelma menjadi pelaku industry politik.

Politisi Sejati

Perubahan memerlukan politisi. Namun, bukan sembarang politisi sejati. Siapa mereka itu? Pertama: politisi yang memperjuangkan Islam sebagai ideology (mabda’). Yakni memperjuangkan Islam sebagai akidah dan system kehidupan (nizham) untuk menyelesaikan masalah keumatan. Allah SWT. menegaskan bahwa tugas partai/gerakan adalah memperjuangkan penerapan syariah Islam secara kaffah. Allah SWT. berfirman dalam surat Ali Imran [3] ayat 104,

Hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung

Kedua: politisi yang memberikan kemaslahatan dan berjuang bagi umat. Seperti yang dah disebutindi atas, politik merupakan pengurusan umat/rakyat. Karenanya, seorang politisi ketika berkecimpung dalam dunia politik, berarti dia rela mengabdikan dirinya demi rakyat. Ketika akidah umat dicabik-cabik oleh kristenisasi dan aliran sesat, dia berteriak lantang. Saat BBM dan barang ambang lainnya sebagai harta umat diserahkan penguasa kepada asing, dia membongkarnya. Ketika Negara digadaikan dan menjadi budak Negara kafir penjajah, dia melawannya. Suatu ketika Rasulullah saw. pernah ditanya tentang jihad apa yang paling utama. Beliau menjawab, “Kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim” (HR. Ahmad).

Ketiga: politisi yang berpolitik tanpa pamrih, semata-mata untuk mencar ridha Allah SWT. Sosok politisi yang paling tepat tentu Rasulullah saw. dan para shahabat. Mereka berjuang dan berpolitik sejak di Makkah tanpa pamrih. Dorongannya hanyalah akidah saja.

Keempat: Memperkuat partai ideologis. Politisi sejati mendudukkan aktivitas politiknya sebagai perjuangan untuk memperbaiki masyarakat dengan syariah. Tentu, tidak mungkin berjuang seorang diri saja. Perjuangan harus dilakukan secara berkelompok, namun bukan kelompok sembarangan. Melainkan kelompok yang terbuka, sungguh-sungguh konsisten memperjuangkan tegaknya hokum Allah SWT. demi kebaikan rakyat.

Kelima: memperkuat konsistensi thariqah (metode perjuangan) partai. Perjuangan baru akan berhasil kalau menapaki jalan yang ditempuh Rasulullah Muhammad saw. dan para shahabatnya. Karenanya, selain gagasan/ide/ solusi digali dengan syariah Islam, metode perjuangannya pun harus mencontoh beliau. Beliau melakukan tasqif (pembinaan). Lalu, mereka berinteraksi dan berjuang bersama masyarakat. Akhirnya dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk para pemilik kekuatan (ahl al-quwwah), Allah SWT. memberikan kekuasaan dan kesuksesan.

Keenam: membangun sikap jiwa (nafsiyah). Selaincara berpikir, politisi sejati memiliki sikap jiwa Islam (nafsiyah islamiyyah). Ridha dan bencinya, senang dan susahnya didasarkan pada Islam.

Ketujuh: memperkuat edukasi umat tentang syariah dan Khilafah. Jangan sampai umat tidak tahu apa-apa tentang syariah dan Khilafah, dan senantiasa dibodohi oleh penjajah asing dan para pengekornya (penguasa boneka). Jelaslah, politisi sejati akan terus melakukan edukasi tentang syariah dan Khilafah di tengah-tengah umat. Kesadaran bahwa ada yang salah dalam mengelola negeri Muslim terbesar ini perlu ditumbuhkan dalam jiwa masyarakat seraya dipaparkan solusi-solusinya yang digali dari syariah.

Kedelapan: harus memiliki pengalaman dan pengetahuan politik. Pengalam dan pengetahuan politik ini, bukan berarti mesti menjadi wakil rakyat atau jadi presiden sekalian, tapi bisa didapat dengan langsung terjun ke tengah masyarakat, bergaul dengan masyarakat dan turut menyelesaikan problematika mereka. Tapi sebelumnya tentu harus diberikan pengetahuan dari pembinaan (pengkaderan) sebelumnya.

Nah, kalau semua politisi Muslim seperti itu, insya Allah kemenangan Islam sudah ada di depan mata. Dunia pun akan tahu bahwa masa depan adalah milik umat Islam, dengan kemakmuran dan kesejahteraan yang tersebar di seluruh dunia ini.


Aksi

Information

4 responses

1 06 2009
Nadia

hmm.. jadi gitu, ya. nadia baru ngerti

2 06 2009
thebest195friends

makannya pahami terus….tentang islam……dan kunjungi terus blog ini

10 06 2009
tya

tapi kalo solusinya dengan membentuk khilafah islam,, kayanya ga tepat deh..

12 06 2009
thebest195friends

Kenapa dengan diadakannya kalifah islam gak tyepat ….justru itu dengan diadakannya sistem khalifah maka islam akan lebih kuat……,karena itu pada beberapa tahun yang silam sistem khalifah dihapuskan karena bangsa zionis….yangat takut….dengan diadakannya sistem itu……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s