Islam Menolak Demokrasi…….

30 05 2009

Dalam kehidupan dunia, kebenaran (pendapat) tidaklah diukur dan ditetapkan oleh sedikit atau banyaknya jumlah orang yang melakukannya. Kebenaran itu harus diukur dan ditetapkan oleh kaidah-kaidah, prinsip-prinsip, dan manhaj rabbani yang diturunkan dari langit.

(Adnan ‘Ali Ridha an-Nahwi, dalam Syura La ad-Dimuqrathiyah hal. 103)

Temen-temen tahu slogan “Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”? bukan slogannya salah satu media massa, ya! ini adalah definisi demokrasi oleh seorang presiden Amerika, Abraham Lincoln (1809-1865). Temen-temen tahu nggak artinya demokrasi? Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata demos artinya rakyat dan cratein yang berarti pemerintah.

Latar Belakang

Kalian tahu Athena? Nah, kemunculan demokrasi terinspirasi dari fakta Negara kota (polis) di kota Athena, Yunani (sekitar tahun 450 SM) yang mempraktikan seluruh warga kota dalam proses pengambilan keputusan. Konsep tersebut digali kembali di Eropa pada masa Renaissance (‘zaman pencerahan’), yakni era perlawanan terhadap kekuasaan gereja dan kaisar pada zaman pertengahan, yang penuh dengan penyimpangan dan penindasan terhadap rakyat dengan mengatasnamakan agama (baca: gereja). Oleh karena itu, muncullah gerakan reformasi gereja yang menentang dominasi gereja, dan menghendaki disingkirkannya agama dari kehidupan (sekularisme), dan menuntut kebebasan.

Pada masa itu, orang mencari suatu model agar kekuasaan tidak dimonopoli oleh satu orang, keluarga kerajaan, kaum bangsawan atau penguasa gereja. Ironinya, satu-satunya bahan yang terseida bagi para pemikir di Abad Pertengahan adalah dari sejarah Yunani kuno. Dari sejarah itu mereka belajar bahwa di kota Athena jaman baheula diterapkan satu system, yaitu seluruh warga kota turut serta dalam proses pengambilan keputusan. System tersebut dianggap baik oleh para pemikir Abad Pertengahan waktu itu, yang sedang tertekan oleh system kediktatoran para raja dan penguasa gereja. Akhirnya, mereka mengadopsi system Athena tersebut dan mempopulerkannya dengan nama Demokrasi.

Manusia bukan al-Hakim

Salah satu pemikiran mendasar dalam demokrasi adalah kedaulatan di tangan rakyat. Akibatnya, rakyatlah melalui wakilnya dipandang memiliki hak membuat konstitusi, peraturan dan undang-undang apapun, mereka pun berhak untuk membatalkannya. Dalam demokrasi, semua hal dikembalikan kembali kepada logika (pemikiran) manusia. Padahal faktanya, sehebat dan secerdas apapun, manusia tetaplah manusia; serba lemah, kurang, terbatas dan butuh akan yang lain. Fakta tersebut disadari sendiri oleh ahli hokum Barat seperti Prof. Dr. Angelius dalam Wijs Gerige Ge Menschapsleer. Dia mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan lemah dan mutlak membutuhkan sesamanya. Oleh karena itu, apapun yang dihasilkan manusia -termasuk hukum- pasti mengalami kekurangan serta akan menimbulkan perbedaan, perselisihan dan pertentangan.

Akal sama sekali tidak dapat menilai apakah sesuatu perbuatan itu baik (khayr) atau buruk (syarr), terpuji (hasan) atau tercela (qabih). Hanya Allah Yang Maha Pembuat Hukum-lah, yang dapat menilai baik-buruknya sesuatu. Alasannya, Surga dan Neraka adalah ciptaan Allah sebagaimana halnya manusia, langit dan bumi. Dalam hal ini, Allah telah menentukan kelayakan manusia memasuki Surga atau Neraka bergantung pada sejauh manusia mengikuti perintah-Nya. Artinya, Surga-Neraka atau pahala-siksa merupakan konsekuensi dari sejauh mana manusia mengikuti hukum-hukum Allah, Pemilik Surga dan Neraka, bukan mengikuti kehendak manusia sebagai makhluk-Nya dengan segala keterbatasannya. Manusia tidak memiliki kemampuan menilai perkara-perkara yang berada di luar jangkauan akalnya, bahkan ia tidak mungkin mampu menilai perkara-perkara yang tidak dapat dia indera.

Sudah menjadi sebuah realita, apabila manusia diberikah hak untuk membuat hokum, maka ia tidak mungkin mau untuk membuat hokum yang merugikan dirinya sendiri. Ini sangat berbahaya mengingat standar baik-buruk maupun terpuji-tercela pada setiap orang akan berbeda, sesuai dengan kehendaknya masing-masing. Kondisi inilah yang menyebabkan selalu saja ada pertentangan ketika undang-undang itu dibuat, dan kemudian dicabut kembali apabila tidak relevan lagi dengan jaman. Oleh karenanya, hokum tuch nggak boleh dibuat sama manusia, tapi harus berasal dari Yang Maha Sempurna, yaitu Allah SWT.

Demokrasi:Alat Penjajahan

Dewasa ini, temen-temen pasti dah tahu kan, kalau yang menjadi Negara Adidaya-nya (Superpower Nation) adalah negara-negara penganut ideology kapitalis, contohnya AS. Mereka dapat hidup dan kaya itu, karena berbagai eksploitasi yang mereka lakukan terhadap Negara Dunia Ketiga. Agar penjajahan itu berjalan dengan mulus, maka harus ada kesamaan standar, persepsi dan keyakinan bagi seluruh negara di dunia. Kesamaan persepsi tersebut akan dikemas sedemikian rupa sehingga terkesan sebagai ide yang terbaik, universal, sehingga mau tidak mau Negara diarahkan (baca: dipaksakan) menganutnya. Standar, persepsi dan keyakinan itu tidak lain adalah demokrasi (termasuk HAM) dan liberalism ekonomi dunnia yang muncul dari ideology Kapitalisme.

Untuk menyebarluaskan paham in, Negara kapitalis seperti AS melakukan internasionalisasi ideology Kapitalisme sebagai asas interaksi dan UU Internasional. AS dan Negara kapitalis lainnya kemudian membentuk PBB dan Piagam PBB, yang menjadi legitimasi dan alat kepentingan internasionalnya. Sebagai dewan pembentuk badan internasional itu, tentu AS tidak mau tidak harus mendapat jaminan bahwa kepentingan-kepentingannya harus lancer. Maka dibuatlah DK PBB dengan anggota tetap yang memiliki hak veto. Dengan hak ini, segala hal yang dianggap bertentangan dan bertolak belakang dari kepentingannya dapat dengan mudah ditolak, tidak peduli meskipun seluruh Negara mendukung keputusan tersebut.

Dalam bidang politik, berbagai aturan yang dibuat oleh ideology Kapitalisme ini diinternasionalisasikan. Lahirlah, antara lain salah satu cirri penting dalam demokrasi, kebebasan dengan adanya Declaration of Human Right tahun 1948. Kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan, dan perilaku adalah pokok penting dari kebebasan yang menjadi ide dari deklarasi ini. Internasionalisasi ini dibutuhkan AS agar setiap tindakan yang dilakukannya di dunia internasional dapat “terlindung” meskipun apa yang dilakukannya hanya untuk kepentingan AS semata.


Aksi

Information

8 responses

30 05 2009
Arliandi

Sy juga setju, law Islam itu nolak democrazy. al nya, mang btentangn bgt, tuch Islam ama democrazy

1 06 2009
thebest195friends

siplah pendapat anda sama dengan halnya saya……

30 05 2009
Anton

gak ah, gak setuju

1 06 2009
thebest195friends

kenapa gak setuju……???

30 05 2009
adit

janji manis demokrasi, liberal, kapitalis itu hanyalah ilusi bagi seorang pemimpi dan oportunis. para aktivis demokrasi liberal-kapitalis, sebagian besar –kalau tidak semua– hanya terdorong untuk mendapatkan populeritas dan imbalan lembaran dolar serta memenuhi ambisi keserakahan, kesombongan dan keangkuhan. Mereka selalu berdalih melakukan perubahan dan pencerahan tapi faktanya justru melakukan penindasan, pemiskinan, pembodohan dan pendangkalan akidah umat. Mereka mengaku rasional tapi tak pernah mau mengakui kegagalan demokrasi liberal-kapitalis. Padahal anak setingkat SMP pun tahu bahwa demokrasi liberal-kapitalis termasuk HAM dan PBB hanyalah alat bagi amerika untuk mempertahankan hegemoninya sebagai negara adidaya. Sebaliknya para aktivis neolib mencoba mendiskreditkan aktivis Islam yang memperjuangkan tegaknya syari’ah dengan menerbitkan buku “Ilusi negara Islam” dan berbagai tudingan negatif lainnya. Dasar pelacur intlektual……

1 06 2009
thebest195friends

kita harus melihat sesuatu apakah itu posistif atau negatif, baik atau buruk harus dari sumber,bukti,fakta yang menurut kita pantas untuk dijadikan pedoman kita untuk berpendapat.seperti pendapat anda…..

1 06 2009
Nadia

emang bener, da demokrasi tuch sistem kufur

2 06 2009
thebest195friends

jadi anda setuju klu islam itu menolak demokrasi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s