Bahaya Sekularisme

1 06 2009

You know secularism? Secularism, atau sekularisme adalah paham yang mengajarkan untuk memisahkan antara dunia dan agama. Kayak gimana? Contohnya:

Si A mempunyai teman bernama si B. Suatu hari, si A ngelihat si B sedang menyontek saat ulangan. Lalu, setelah itu si A memperingati si B. “B, sori ya, tapi nyontek itu kan dilarang agama, karena kamu telah membohongi guru dan diri kamu sendiri!” Lalu si B ngejawab,” A, kalau mau ngomongin agama, jangan di sini dech. Nanti malem kan ada pengajian, ayhayu kita ngomongin di mesjid aja! Da, di sini mah, urusan dunia bukan agama!”

Nah, perkataan yang diungkapkan oleh si B tadi, merupakan buah dari pemahaman sekular ini. Si B menganggap bahwa -kasarnya- agama itu tidak berperan untuk mengatur urusan keduniawian, atau dengan kata lain hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Agama hanya dipakai saat kita ke mesjid saja, atau ketika ada majelis ta’lim, atau ketika bulan Ramadhan saja, atau contoh-contoh lainnya. Orang-orang yang berpahaman sekular ini, menganggap bahwa urusan keduniawian, biar mereka saja yang mengatur, karena menganggap mereka lebih tahu tentang hakikat manusia. Padahal, pada saat yang sama -dengan logika sederhana- berarti mereka menganggap bahwa Allah itu “lebih kecil” pengetahuannya dari pada mereka!

Latar belakang adanya paham sekular ini, adalah ketika di ujung masa imperial Romawi. Sebagaimana kita tahu sebelumnya, bahwa kaisar Romawi senenatiasa memerintah dengan berlandaskan “perintah agama”. Suara kaisar dianggap sebagai suara Tuhan, sehingga apa yang diperintah harus dikerjakan. Ketika ingin membuat hukum baru, kaisar melakukan “calling” kepada pendeta-pendeta kekaisaran (pendeta Kristen) untuk “membuat” hukum baru. Sehingga, ketika kaisar ingin menerapkannya, dia bisa menunjukkan kepada rakyatnya, bahwa “wahyu” telah turun sehingga membuat ia harus mengerjakannya. Suatu ketika, para pemikir (filsuf) dan cendikiawan berpikir, bahwa tirani ini harus segera dihilangkan. Mereka merumuskan model pemerintahan yang menurut mereka baik, yaitu pemerintahan yang sekular (memisahkan agama dari kehidupan). Lalu, para pemikir dan cendikiawan mengajak rakyat sipil, membangun kelompok yang kuat, dan melobi para penguasa yang akhirnya mereka mengajukan perdebatan dengan pihak kaisar dan gereja. Lalu, akhirnya dibuat kesepakatan, bahwa agama hanya boleh dipakai di tempat ibadah saja (dalam hal ini gerja), sementara di dunia hukum dibuat berdasarkan kesepakatan manusia (para penguasa).

Dari sinilah, paham sekular ini lahir, dan kaum kafir penjajah menggunakan paham ini untuk meruntuhkan Negara Islam. Dan kesempatan emas pun muncul bagi kaum kafir penjajah, ketika Negara Islam mulai terombang-ambing. Kebetulan, pada saat yang sama di Eropa (kebanyakan kaum kafir penjajah, seperti Perancis, Inggris, dll) terjadi hal yang sebaliknya, yaitu zaman yang kita kenal dengan zaman Renaissance. Saat itu, Eropa sedang mengalami masa kejayaannya, dengan adanya penemuan-penemuan baru -yang sebenernya merupakan modifikasi dari pengetahuan saat kejayaan Negara Islam-. Negara Islam yang saat itu hampir hancur merasa “silau” dengan kejayaan itu. Eropa memanfaatkan hal ini, untuk menunjukkan bahwa inlah buah dari pemisahan agama dari kehidupan. Maka, mulailah penyusupan undang-undang baru ke tubuh Negara Islam, yang sebenrnya bertentangan dengan Islam, tapi dikemas dan juga “dipaksakan” untuk menjadi UU di Negara Islam. Lebih jauh, paham sekular ini berimplikasi melahirkan demokrasi, nasionalis, pluralis, dan lain sebagainya. Paham-paham racun inilah yang mengakomodir keruntuhan Negara Islam. Dengan paham sekular ini, umat Islam diajarkan, bahwa agama tidak perlu mengatur urusan kenegaraan. Lalu paham nasionalis misalnya, mengajarkan kita itu berbeda bangsa, sehingga tidak boleh ada persatuan dan harus memisah. Dan paham-paham lainnya yang sama, yaitu bertujuan menghancurkan persatuan umat pada waktu itu.

Nah, inilah bahayanya paham sekular, paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Maka, kita tidak boleh terperangkap dari paham ini, ataupun paham-paham racun lainnya. Jelas, paham ini dijadikan alat oleh kaum kafir penjajah untuk memisahkan persatuan kita. Persatuan yang telah dibangun selama lebih dari 13 abad. Persatuan yang di dalamnya hanya pernah terjadi 200 kasus kriminalitas (pembunuhan, pencurian, dsb) selama kurang lebih 1300 tahun. Persatuan yang dapat membawa kita serta kemakmuran dan kejayaan umat Islam, dan pasti kepada keridhoan Allah. Maka, sudah saatnya bagi kita untuk bangkit! Sudah saatnya bagi kita untuk memahamkan umat, bahwa Islam-lah yang dapat mempersatukan umat, bukannya paham-paham racun dari barat tersebut.






Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.