Awas! Strategi Barat Memecah Belah Umat Islam!

31 05 2009

“Ada beberapa ide yang terus-menerus diangkat untuk menjelekkan citra Islam, yaitu demokrasi dan HAM, polgami, sanksi criminal, keadilan Islam, isu minoritas, pakaian wanita, dan kebolehan suami untuk memukul istri.”
(Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, The Rand Corporation)

Temen-temen tahu nggak, berapa jumlah umat Islam di dunia saat ini? Menurut salah satu situs, jumlah umat Islam pada tahun 2008 kemarin berjumlah sekitar 1 milyar! Banyak amat, ya? Coba kamu hitung di rumah kamu, ada berapa orang sekeluarga. Terus dikaliin jumlahnya sehingga jadi 1 milyar. Kebayang nggak, banyaknya? Tapi, temen-temen tahu ngga, saat Palestina awal tahun ini dibantai oleh negeri biadab Israel dan sekutunya AS, tahu nggak berapa negara yang mayoritasnya umat Islam, memberikan bantuan militer? Nggak ada! Yang ada hanyalah memberikan bantuan hanya sebatas bersifat kemanusiaan saja; seperti obat-obatan, pakaian, dan makanan. Tidak ada satupun yang “berani” mengirim pasukan, pesawat tempur, ataupun lain-lainnya. Ironis, kan? Meskipun dari segi kalkulasi jumlah umat Islam sangat besar, namun dalam mengekspresikan kekuatan (bargaining power) dan kemauan politik (political will) yang bertumpu pada agamanya, mereka masih kecil banget. Boleh dikatakan, saat berhadapan dengan hegemoni Barat, umat Islam lebih memilih menjadi silent majority (mayoitas terdiam), dan para pemimpinnya pun lebih rela dan nyaman menjadi “pelayan yang baik” bagi kepentingan sang tuan (Barat).

Strategi Pemikiran
Temen-temen tahu nggak, pada masa Khilafah, nggak cuman umat Islam aja yang tinggal? Pada masa itu, Negara Khilafah mampu mempersatukan berbagai macam suku, ras, bahasa dan budaya local yang sejatinya berbeda. Namun kemudian, muncullah ide nasionalisme (tokohnya adalah Boutros al-Bustani, penyebaran di Timur Tengah). Paham itu berhasil meruntuhkan tatanan persatuan umat yang telah lama dipelihara dan menimbulkan konflik berdarah di tubuh masyarakat. Atas nama nasionalisme dan kemerdekaan, negara-negara yang tadinya berada di bawah naungan Daulah Khilafah satu persatu “kabur” dan memisahkan diri. Terjadilan disintegrasi dan knflik berkepanjangan (contohnya Sunni-Syiah). Padahal, seharusnya tidak perlu ada pertentangan seperti itu. Namun negeri Barat, khususnya AS dengan gencar “mengontrol” pertentangan tersebut. Nasionalisme memang memiliki pengaruh yang signifikan dalam mendekontruksi persatuan umat Islam. Lebih jauh, Benedict dalam Imagined Communities menyatakan bahwa nasionalisme bertujuan membentuk negara-bangsa (nation state) yang bertumpu pada suku atau ras tertentu. Oleh karena itu, beberapa Negara multibangsa mengalami disintegrasi, contohnya Yugoslavia, Uni-Soviet, Austria-Hongaria, dan tentu saja Daulah Khilafah Islam.
Selain nasionalisme, negara Barat pun mengkampanyekan berbagai ide seperti demokrasi, pluralism, dan HAM; dan yang pasti kompatibel dengan nasionalisme tadi. Demokrasi yang mendasarkan idenya pada kebebasan (freedom) dan sekularisme telah member andil terciptanya upaya tafsir ulang atas hokum-hukum Islam serta menjauhkan upaya persatuan umat yang didasarkan pada persamaan akidah. Khilafah dianggap tidak relevan dalam mempersatukan umat. Perbedaan suku, ras, agama, geografis, dan lainnya dianggap menjadi alasan utama untuk menihilkan persatuan ini. Realitas sejarah yang menunjukkan bahwa Islam adalah pemersatu umat seakan dilupakan begitu saja.
Kemudian, negeri Barat juga mengupayakan terjadinya dialog antar agama dan peradaban, sehingga ide-ide seperti semua agama itu sama, tidak ada agama yang mengajarkan keburukan; telah menjadi pemahaman umat Islam sendiri. Dan implikasi lanjutannya adalah menjauhnya gagasan untuk menegakkan kembali Khilafah, dan mengganti pemecahan problem yang tadinya sesuai dengan Islam, kini menggunakan tata cara pandang Kapitalisme (asas manfaat).

Strategi Politik
Setelah meruntuhkan Khilafah Islam, Barat kemudian mengkooptasi hampir seluruh negeri-negeri Islam, dan kemudian memasukkan agen-agennya sebagai penguasa. Jika mereka tetap “istiqamah” dalam melayani tuannya (Barat), mereka akan diberi penghargaan. Namun, jika loyalitas mereka memudar atau bahkan menentang, barangkali nasib seperti Saddam Husein akan menimpa mereka.
Dalam Game of Nation and The Game Player karya Miles Copeland, cukup memberikan kita semua pelajaran bagaimana kiprah Barat dengan dukungan operator CIA dan M16 menjatuhkan dan mendudukkan penguasa Timur Tengah. Bahkan, mereka melakukan hal-hal yang lebih vulgar dan provokatif saat ini. Jika dulu Barat hanya menggunakan agen-agennya (soft), sekarang mereka menggunakan kekuatan diplomasi dan militer (hard).
Dan hal ini bukan hanya menimpa umat Islam di belahan dunia yang lain saja, bahkan Indonesia sendiripun diserang oleh negeri Barat. Haluan ekonomi yang neo-liberal, privatisasi, dan pasar bebas; politik yang demokrasi dan menekankan HAM yang bermuara sekularisasi; agama yang pluralism dan sinkretisme, depolitisasi akidah, dekonstruksi syariah. Dari sinilah, politik divide et impera dilancarkan, sehingga muncullah istilah; Islam fundamentalis vs. moderat, tradisionalis vs. modernis, substantive vs. formalis, dan lain sebagainya yang menyesatkan umat. Umat Islam yang memiliki wawasan yang kurang pun bingung dan lebih memilih bersikap apatis, dan dapat dipastikan, perlu proses waktu untuk menyadarkan umat agar mereka memahami bahwa persatuan umat adalah hal yang tidak dapat ditwar-tawar lagi.
Nah, temen-temen. Faktanya, sekarang Khilafah yang menjadi pemersatu umat sudah tidak ada. Sehingga menjadi tugas kita semua, sebagai pejuang Islam untuk bersama-sama berjuang dalam rangka menegakkan kembali Daulah Khilafah, yang jelas terbukti mampu mempersatukan berbagai macam perbedaan suku serta ras, dari Afrika Utara hingga Asia Tenggara.





Sekolah Tidak Mendidik, Hanya Mengajari

31 05 2009

Guys, pernahkah kalian berpikir seperti itu? Atau paling tidak, merasa bahwa apa yang kalian lakukan hanyalah dateng ke sekolah, duduk-dengerin guru ngomong, pulang sekolah. Malemnya ngerjain PR. Terus esok harinya, kalian ke sekolah lagi, duduk-dengerin guru ngomong, pulang sekolah, dan malemnya ngerjain PR. Atau paling banter hanya tugas makalah, wawancara, dsb, yang nantinya cuma 1 orang yang ngerjain, semenara lainnya santai-santai.

Ya, inilah yang kita rasakan dengan “sistem pendidikan” di Indonesia yang kurang mendidik anak sekolah. Pada saat sekarang, sekolah hanyalah tempat transfer ilmu saja, dari seorang guru -yang lebih duluan mendapat ilmu- kepada murid -yang baru mendapat ilmu- dengan asas timbal balik (siswa mendapat pengetahuan, guru mendapat gaji dari SPP). Dengan sistem seperti ini, siswa-siswa keluaran sekolah tentu tidak bisa mengerjakan apa-apa ketika dia keluar/lulus dari bangku sekolah, karena memang hanya pengetahuan teoritis saja yang ia dapat semasa sekolah.Siswa tidaklah diajak untuk memperdalam pengetahuan, namun hanya diberikan, dan siswa dipaksa untuk mengerti. Siswa merasa belajar itu hanyalah menjadi beban dan bagi mereka, sehingga tidak pernah ada niat untuk belajar dengan iklas pada pikiran mereka, kecuali segelintir saja -itupun sudah dibangun sebelum sekolah-. Belum lagi masalah guru yang memakan “gaji buta”, siswa yang selalu bolos dari pelajaran, dan masalah-masalah lainnya, yang merupakan implikasi dari sistem dasar pendidikan di Indonesa ini. Akibatnya, sekolah bukan lagi tempat untuk mendidik siswa agar dapat menjadi generasi revolusioner, namun hanya generasi yang membawa beban yang berat dan bergerak letoy, yang tidak memiliki produktifitas kerja yang baik, yang hanya menyusahkan masyarakat saja, dan sifat-sifat negatif lainnya.

Lalu, bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang baik? Tentu sistem pendidikan ini harus mampu menjadikan siswa-siswa ini berubah, bukan hanya meningkat ilmu pengetahuannya saja, atau memiliki kemampuan ekstra saja, tapi berubah serta pola pikirnya, menjadi pola pikir Islami, yang senantiasa menjaga aqidah, kepribadian, serta batasan-batasan yang ditetapkan oleh Syariah Islam. Dalam Islam, siswa tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan, namun siswa juga dibina sisi spritual serta fikrah (pemikiran) nya. Dengan hal ini, siswa tidak akan menjadi generasi perusak ataupun generasi pemberhenti, namun menjadi generasi yang senantiasa berpikir lurus ke depan dan maju. Siswa akan berpikir untuk tetap mengembangkan ilmu pengeahuan ini, dan bahkan menjadi pelopor bagi adanya ilmu-ilmu baru, baik turunan maupun induk. Siswa akan tumbuh menjadi generasi yang bermoral dan beradab, yang tidak asal melakukan demo-demo anarkis di sana sini, tapi lebih berpikir bagaimana solusi yang seharusnya diterapkan jika ada masalah yang terjadi pada negara. Itulah siswa-siswa keluaran sekolah yang seharusnya, dan hal ini tidak akan pernah terjadi jika sistem pendidikan ini tidak berubah, lebih jauh yaitu sistem pemerintahan yang tidak mengasaskan Islam, berubah menjadi sistem Negara Islam.






Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.